Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Lebih Banyak Ikan di Laut atau Bintang di Langit?

Lebih Banyak Ikan di Laut atau Bintang di Langit?

Pada suatu hari, Raja Harun Ar Rasyid kelihatan murung sekali karena beliau memiliki pertanyaan dan para menterinya belum ada yang mampu mnenjawabnya dengan tepat.

Akhirnya berimbas suasana istana terlihat sunyi senyap karena rajanya sedang termenung memikirkan dua pertanyaan sang raja. Semuanya telah berusaha dengan keras, naman jawaban dari pertanyaan raja belum juga ketemu.

Baginda raja sangat ingin tahu jawabannya. Mungkin karena rasa penasaran, penasehat kerajaan menyarankan untuk memanggil Abu Nawas untuk memecahkan teka-teki yang membingunkan ini.

Karena dua pertanyaan ini, baginda raja tak dapat tidur karena kepikiran dengan keingintahuannya untuk menyingkap fenomena alam tersebut.




Abu Nawas akhirnya jadi dipanggil dan menghadap sanga raja.
"Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?" tanya Abu Nawas.



"Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku, "kata raja.
"Bolehkah hamba mengetahui dua teka-teki itu, wahai Paduka?" tanya Abu Nawas.

"Yang pertama, dimanakah sebenarnya batas jagad raya ciptaan Tuhan kita itu?" tanya raja.
"Di dalam pikiran wahai Paduka yang mulia, "jawab Abu Nawas.
"Kenapa bisa begitu?" tanya raja.
"Tuanku, ketidakterbatasan itu ada karewna adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditaqnamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu, manusia tidak akan pernah tahu dimana batas jagad raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas, "jelas Abu Nawas.


Raja mulai tersenyum karena merasa puas mendengarkan jawaban Abu Nawas yang masuk akal. Kemudia, Baginda melanjutkan dengan teka-teki yang kedua.

"Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak, bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?" tanya raja.
"Ikan-ikan di laut, Paduka, "jawab Abu Nawas.
"Bagaimana kamu memutuskan hal tersebut, apakah kamu pernah menghitungnya?" tanya raja.






"Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkap dalam jumlah yang besar, namun seolah-olah jumlah mereka tak berkurang sama sekali. Sementara bintang-bintang tak pernah diambil, jadi jumlah tetap saja," jelas Abu Nawas.

Seketika rasa penasaran Baginda raja sirna atas jawaban yang diberikan oleh Abu Nawas.

Abu Nawas Dituduh Mencuri

Abu Nawas Dituduh Mencuri

Abu Nawas memang sangat terkenal dengan kecerdikannya dalam memecahkan masalah yang pelik. Begitu juga dengan kisah yang satu ini, Abu Nawas ditimpa masalah, difitnah dan dituduh mencuri.

Akankah Abu Nawas mampu menyelesaikan perkara ini? Berikut kisahnya.

Pada suatu hari, si Fulan datang ke istana Raja Harun Ar Rasyid. Dia ini diam-diam memendam rasa dendam kepada Abu Nawas. Setelah bertemu dengan raja, maka ia pun menceritakan perihal maksud kedatangannya.

"Yang mulia, aku ingin melaporkan perbuatan buruk salah satu orang kepercayaan Anda, "kata si Fulan.
"Siapakah dia dan apa yang telah diperbuatnya? "tanya raja.
"Dia adalah orang kepercayaan Paduka, yaitu Abu Nawas. Dia telah melakukan perbuatan keji, yaitu mencuri kalung emas saya, "jawab si Fulan.

Raja pun terkejut, dan meminta si Fulan menceritakan kronologisnya.

"Begini yang mulia, sepertinya Abu Nawas sudah lama mengincar kalung emas saya. Awalnya ia ingin memebeli kalung tersebut, namun hamba tidak ingin menjualnya, "terang si Fulan.

Mendengar hasutan orang tersebut, Abu Nawas pun langsung dipanggil ke istana. Sesampainya di istana, raja memerintahkan prajurit untu memenjarakan Abu Nawas.


"Tunggu sebentar Paduka, sebenarnya ini ada apa hingga pada begitu marah kepada saya, "bela Abu Nawas sembari kebingungan.

Mendengar ucapan Abu Nawas tersebut, raja langsung murka,
"Berani sekali kamu bertanya seperti itu, bukankah kamu sudah mencuri kalung si Fulan?" bentak raja sambil menunjuk si Fulan yang tak jauh dari raja.
"Tidak Paduka, untuk apa saya mencuri kalungnya? "bantah Abu Nawas.
Abu Nawas mulai sadar bahwa dirinya telah difitnah.

"Buktinya, orang ini membawa selendang milikmu, dan aku pernah melihatnmu memakainya, "kata raja.
Abu Nawas memang pemilik selendang tersebut, namun sudah dua hari lamanya selendang tersebut hilang dicuri oleh seseorang.
Dia sudah mencoba menjelaskan beberapa kali sampai lama, namun kayaknya usahanya sia-sia saja.





Dipancung atau Digantung ?


Pada keesokan harinya, dan karena banyaknya hasutan yang dilontarkan si Fulan kepada raja, akhirnya Abu Nawas dijatuhi hukuman mati. Selain itu, baginda juga ingin menguji kepandaianh Abu Nawas dalam perkara ini.

Saatnya hukuman mati diberikan. Sesaat sebelum hukuman mati dilaksanakan, raja sempat menanyakan apa permintaan terakhir Abu Nawas ini.

Dan oh ternyata saat-saat ini yang palking ditunggu oleh Abu Nawas. Abu Nawas minta agar diberi kesempatan untuk memilih hukuman mati dirinya.

"Hamba minta bila pilihan hamba benar, hamba bersedia dihukum pancung. Tapi jika pilihan hamba dianggap salah, maka hamba dihukum gantung saja, "kata Abu Nawas memohon.
"Engkau ini memang orang yang aneh. Saat-saat genting pun masih saja sempat bersenda gurau. Akan tetapi, dsegala tipu muslihatmu tidak akan bisa menyelematkanmu, "ujar baginda.

"Hamba tidak bersenda gurau, Paduka, "kata Abu Nawas.
Raja pun semakin terpingkal-pingkal dibuatnya. Namun belum selesai raja tertawanya, Abu Nawas berteriak dengan nyaring.





"Hamba minta dihukum pancung !" "Hamba minta dihukum pancung !"

Semua orang yang hadir saat itu dibuat kaget. Mereka bertanya-tanya kenapa Abu Nawas membuat keputusan seperti itu. Sementara itu raja mulai curiga dan sekaligus mulai berpikir tentang kalimat permintaan terakhir dari Abu Nawas tadi.

"Baginda, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung.Kalau pilihsn hamba benar, maka hamba dihukum pancung. Tetapi dimanakah letak kesalahan pilihan hamba, hingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba kan memilih dihukum pancung?" jelas Abu Nawas.

Tak disangka olah kata Abu Nawas membuat raja tercengang dan menyadrinya. Dalam hati, raja mengakui kehebatan Abu Nawas. Dan selanjutnya, masalah tersebut masih diusut lagi.

Serlang beberapa hari kemudian, ternyata Abu Nawas hanya difitnah saja oleh si Fulan.

Doa Abu Nawas Untuk Minta Jodoh

Doa Abu Nawas Untuk Minta Jodoh

Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya segera dapat jodoh dan menikah.
Kecerdasan otak serta semangatnya akhirnya berujung indah.
Ia mendapatkan istri yang cantik dan shalihah.


Berikut Kisah Trik Do'a Abu Nawas Minta Jodoh

Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa.
Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.

Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita.
Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah.
Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu.
Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku.
Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong...pertimbangkan lagi ya Allah," ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.


STRATEGI DOA

Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu.
Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya.
Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah.
Ia pun introspeksi diri.

Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku," katanya dalam hati.

Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi.
Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani "maksa" kepada Allah seperti doa sebelumnya.

Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku," begitu bunyi doanya.

Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya.
Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri.
Lama-lama ia mulai khawatir juga.
Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia.
Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

PAKAI NAMA IBU

Abu Nawas memang cerdas.
Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit "diplomatis" dengan Allah.
Ia pun mengubah doanya.

"Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku.
Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah.
Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan.
Maka, berikanlah ia menantu," begitu doa Abu Nawas.


Dasar Abu Nawas, pakai membawa nama ibunya segala, padahal permintaanya itu tetap saja untuk dirinya.
Allah Maha Tahu, tidak perlu dipolitisir segala.

Tapi barangkali karena keikhlasan dan "keluguan" waliyullah Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas.
Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya.
Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.

Abu NawasTidak Mau Hadiah

Abu NawasTidak Mau Hadiah

Suatu ketika Abu Nawas dipanggil oleh Raja Harun Ar Rasyid di istana kerajaan dan terjadilah percakapan di antara keduanya. Rupanya kali ini Abu Nawas sedang memperingatkan rajanya perihal harta dunia yang tidak akan dibawa mati ke kuburan karena Abu Nawas mengetahui bahwa ia dipanggil karena ingin diikat sebagai saudara raja dengan tali ikatan hadiah.

Sesampainya di istana kerajaan, Abu Nawas dengan santainya menegur langsung kepada Raja Harun tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Wahai Amirul Mukminin, bagaimana nanti jika Allah SWT menghadapkan Anda di hadapan-Nya, lalu meminta pertanggungjawaban Anda tentang lalat hitam, burung kenari dan kulit ari," kata Abunawas kepada Raja Harun.


Begitu mendengar penuturan Abunawas yang tiba-tiba itu, menyebabkan Raja Harun Ar Rasyid sedih, sehingga menangis tersedu-sedu. Melihat rajanya bersedih, salah seorang kepala pengawal segera bertindak dengan memarahi Abu Nawas.
"Wahai Abu Nawas, engkau diamlah, engkau telah menyakiti hati sanga Raja!" bentak kepala pengawal kerajaan kepada Abu Nawas.

"Biarkan dia," kata Raja Harun.
"Sebenarnya yang merusak dan menyakiti itu Anda," kata Abu Nawas dengan berani.
"Begini Abu Nawas, saya ingin mengikat tali persaudaraan denganmu dengan pemberian fasilitas dan hadiah-hadiah," kata Raja Harun Ar Rasyid.

"Kembalikan saja semua harta dari tempat semula yang hendak paduka berikan kepada hamba," jawab Abu Nawas.
"Lalu bagiaman dengan kebutuhanmu?" tanya Raja Harun.

"Aku ingin Anda tidak melihatku dan akupun tidak melihat paduka. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, Aiman bin Nail dari Qudamah bin Abdullah al-Kalaby pernah berkata,
Aku telah melihat Rasululah SAW melempar jumrah Aqabah di atas ontanya yang kemerah-merahan, tanpa ada pukulan dan tidak pula dengan pengusiran," jawab Abu Nawas.

Setelah berkata demikian, Abu Nawas segera meninggalkan istana sambil bernyanyi.
Nyanyian Abu Nawas:
Persiapanmu telah memenuhi bumi sepenuhnya
Hambamu mendekat dan sekarang apa?
Bukankah engkau bakal mati dalam kuburan?
Pewarismu mengelilingi, hartamu tak dapat engkau gunakan lagi.

Abu Nawas Menghina Raja tapi Malah Diberi Hadiah

Abu Nawas Menghina Raja tapi Malah Diberi Hadiah

Selamat malam sahabat Abu Nawas yang saya cintai semuanya tanpa terkecuali. Kisah Abu Nawas hadir kembali untuk menghibur para pembaca setianya.
Siapa yang tak kenal dengan Abu Nawas, Sang Ulama Cerdik dan pandai yang disegani oleh kawan maupun lawannya. Setiap ada permasalahan di kerajaan, Beliau selalu bisa menyelesaikan dengan bijaksana.

Ada-ada saja siasat Abu Nawas agar terhindar dari hukuman Sang Raja meski ia jelas-jelas telah menghina rajanya.
Dengan berbagai alasan yang masuk akal, Abu Nawas justru mendapatkan hadiah dari Raja. Semoga kisahnya menghibur kita semuanya.

sungai

Kisahnya

Konon di jaman Raja Harun Al-Rasyid sebelum ada yang namanya toilet, yang ada hanya sungai untuk buang hajat.

Suatu ketika Sang Raja merasa perutnya sedang sakit dan sudah tidak bisa lagi untuk di ajak kompromi.
Seketika itu juga Raja meminta para pengawal untuk mendampinginya ke sungai demi menuntaskan hajatnya.

Kebetulan sungai di situ mengalir ke arah selatan.
Sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat, jika sang Raja sedang buang hajat di sungai, maka rakyat di larang keras buang hajat di sebelah utaranya Raja, karena dikhawatirkan kotoran tersebut akan mengalir ke arah selatan dan mengenai badan sang Raja.
Bagi yang melanggar, maka akan mendapatkan hukuman berat dari sang Raja.

Namun kali ini, peraturan tersebut tidak di indahkan oleh Abu Nawas.
Abu Nawas dengan santainya juga ikut buang hajat di sebelah utara agak jauh dari sang Raja.

Di saat asyik buang hajat, tiba-tiba saja ada suatu benda yang menyenggol pantat Raja.
Tanpa berpikir panjang, benda tersebut langsung di pegang dan di lihat oleh sang Raja.
Dan alangkah kagetnya ternyata benda tersebut adalah kotoran manusia.

Kontan saja hal itu membuat Sang Raja naik pitam, dan seketika itu juga Raja menyuruh para pengawalnya untuk menelusuri sungai di belahan utara dan menangkap orang yang buang hajat.
Benar saja, di sebelah utara agak jauh dari posisi Sang Raja terlihat sosok Abu Nawas sedang buang hajat dengan santainya.





Saat itu juga para pengawal langsung menagkap dan membawanya ke hadapan Raja untuk di hukum.
Ketika di hadapan Raja, Abu Nawas memprotes pada Raja kenapa dia ditangkap dan akan di hukum.
Raja pun menjawab bahwa perbuatan Abu Nawas itu telah melecehkan privasinya dan menginjak-injak harga dirinya sebagai Raja.

"Kamu memang tidak punya tata krama, berani-beraninya kamu buang hajat di sebelah utaraku sehingga kotoranmu mengenai badanku.
Kini kamu harus menerima hukuman dariku," bentak Sang Raja.

"Ma'af, tunggu sebentar wahai Raja," sela Abu Nawas.
"Ada apa? kali ini tidak ada lagi ampunan bagimu Abu Nawas," sahut Sang Raja geram.
"Tunggu sebentar, tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskannya.Saya melakukan itu semua karena saya sangat menghargai Engkau wahai Raja," kata Abu Nawas.

Malah Diberi Hadiah

Mendengar hal itu, Raja Harun Al Rasyid langsung sedikit tertegun dengan apa yang disampaikan oleh Abu Nawas.

"Perbuatan seperti itu kamu bilang malah menghormati aku?" tanya Raja keheranan.

"Begini Raja, selama ini jika Raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau bersama pengawal, tidak ada satu pun dari rakyat atau pengawal yang berani mendahului jalannya Raja.
Begitu juga dengan saya, ketika saya ikut rombongan Raja, posisi ketika berjalan tidak berani mendahului Raja.
Itu saya lakukan karena saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada Raja," bela Abu Nawas.

"Ya bagus, tapi apa hubungannya dengan perbuatanmu sekarang ini?" tanya Raja.

"Begini Raja, saya menghormati engkau tidak setenga-setengah.
Ketika saya buang hajat, saya memilih di sebelah utara Raja dan hal ini saya lakukan karena saya khawatir jika di sebelah selatan Raja, maka nanti kotoran saya tidak sopan kepada kotoran Raja karena sudah berani berjalan mendahului kotoran Raja.
Ini semua saya lakukan demi tata krama saya kepada kotoran Raja," jelas Abu Nawas.

Mendengar penjelasan Abu Nawas, Raja pun tersenyum
Dia tidak jadi marah dan menghukum Abu Nawas, tetapi Abu Nawas malah diberi hadiah karena alasannya masuk akal. Selamat ya Abu Nawas...

Abu Nawas Sedang Hamil dan Hendak Bersalin

Sultan Harun Al-Rasyid dikabarkan sedang mengalami stres berat di istana. Kabarnya pula, hal tersebut dikarenakan beliau tidak bertemu dengan Abunawas selama setengah tahun.

Hal ini membuat baginda raja menyesali perbuatannya karena telah tega mengusir penasehatnya itu. Dalam istana serasa sepi tanpa kehadiran Abunawas yang selalu bisa melucu.

Raja pun akhirnya mencabut titahnya dan menyuruh pengawal menemui Abu Nawas untuk mengajaknya ke istana.
"Mungkin Abu Nawas marah kepadaku, pergilah ke rumahnya dan ajaklah Abu Nawas menemuiku," perintahnya.

Abunawas Sedang Hamil


Pengawal Raja pun berkunjung ke rumah Abu Nawas dan di luar dugaan, Abu Nawas menolak tawaran pengawal Raja itu.
Abu Nawas mengaku tengah hamil dan hendak melahirkan.

"Tolong sampaikan kepada Raja, aku sakit dan hendak bersalin dan aku sedang menunggu dukun beranak untuk mengeluarkan bayiku ini," kata Abu Nawas sambil mengelus perutnya yang buncit.

Maka kembalilah pengawal Raja itu dan menyampaikan kabar sebenarnya.
"Ajaib benar," kata Baginda Raja dalam hati setelah mendengar laporan pengawalnya.
"Baru kali ini aku mendengar kabar seorang lelaki bisa hamil," katanya heran.



Maka Raja pun akhirnya berkeinginan menengok Abu Nawas.
Ia pergi dengan di iringi sejumlah menteri dan para punggawa ke rumah Abu Nawas.
Begitu melihat Raja datang, Abu Nawas pun berlari-lari menyambut dan menyembah kakinya.

"Ya tuanku, berkenan juga rupanya tuanku datang ke rumah hamba yang hina ini," ucap Abu Nawas.
Raja pun kemudian di persilahkan duduk di tempat yang paling terhormat.
Sementara Abu Nawas duduk bersila di bawahnya.

"Ya Tuanku, apakah yang menyebabkan Tuanku datang ke rumahku ini?" tanya Abu Nawas.
"Aku kemari karena ingin tahu keadaanmu, engkau dikabarkan sakit hendak melahirkan dan sedang menunggu dukun beranak, benarkah demikian?" jawab Raja.

Abu Nawas tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Coba jelaskan perkataanmu.Siapa lelaki yang hamil dan siapa dukun beranaknya," tanya Raja lagi.
Maka dengan senang hati berceritalah Abu Nawas.

Ibarat Menjilati Ludah Sendiri


"Konon....Baginda mengusirku dari istana, tetapi setelah 6 bulan berlalu tanpa alasan yang jelas, sang Raja memanggil hamba ke istana, ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian hamil tanpa menikah. Tentu sja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri," cerita Abu Nawas.

Abu Nawas menjelaskan bahwa sebagai seorang pemimpin, seharusnya Raja tidak mengeluarkan titah yang plin-plan, tidak boleh mencabut perintahnya lagi.
Jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludah sendiri dan itulah tanda-tanda pengecut.




"Oleh karena itu harus berfikir masak-masak sebelum bertindak, itulah tamsil seorang lelaki yang hendak bersalin," cerita Abu Nawas menyindir Baginda Raja.
"Lalu bagaimana dengan dukun beranak itu?" tanya Baginda.

"Adapun dukun beranak yang ditunggu, adalah Baginda kemari, dengan kedatangan Baginda kemari, berarti hamba sudah melahirkan, artinya hilangnya rasa sakit atau takut hamba kepada Baginda," cetus Abu Nawas.

"Bukan begitu Abu Nawas, aku tidak sungguh-sungguh melarangmu ke istana, melainkan hanya bergurau.
Besok datanglah engkau ke istana, aku ingin bicara denganmu," titah Raja.

"Segala titah Baginda, hamba junjung tinggi tuanku," sembah Abunawas dengan takzim.
Tetapi Raja hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.

Perintah untuk Memenjarakan Angin

Perintah untuk Memenjarakan Angin

Wah kembali sang raja memberikan perintah yang tak masuk akal sekaligus unik kepada Abu Nawas. Yaitu diperintahkan untuk menangkap sekaligus memenjarakan angin.

Jika gagal, maka hukuman akan akan segera menanti. Lalu bagaimanakah cara Abu Nawas melaksakan tugas yang unik ini? Akankah beliau berhasil atau malah gagal?


Kisah ini sudah pernah diceritakan di blog ini juga, namun ditulis lagi dengan singkat oleh penulis. Bermula dari sang raja yang sakit karena seringnya beliau mengalami masuk angin.

Entah apa karena sang raja terlalu banyak bekerja keras dan kurangnya waktu istirahat atau karena sering memantau rakyatnya di malam hari, sang raja tak mau bilang.





Abu Nawas dipanggil sang raja agar segera menghadap.
"Wahai Abu Nawas, aku ingin sekali menangkap dan memenjarakan angin. Aku perintahkan kamu melaksanakan perintah ini," kata raja.
"Baik Paduka," jawab Abu Nawas.

Setelah berlalu dari hadapan raja, Abu Nawas berpikir keras bagaimana cara menangkap angin dan apa buktinya kalau angin tersebut sudah ditangkap.

Repotnya lagi, Baginda Raja hanya memberikan waktu hanya dua hari saja. Itu artinya, lusa dia sudah harus bisa menangkap si angin jahat tersebut.

Tiba-tiba saja Abu Nawas tersenyum riang. Rupanya beliau sudah menemukan cara ampuh untuk menangkap angin sekaligus membuktikannya kepada sang raja.

Pada esok lusanya, Abu Nawas segera menghadap raja.
"Apakah kamu sudah menangkap angin?" tanya raja.
"Sudah yang mulia, "jawab Abu Nawas.

Kemudian Abu Nawas mengeluarkan botol yang berwarna putih dan ditunjukkan kepada raja.
"Mana angin itu?" tanya raja.
"Di dalam botol ini yang mulia, "jawab Abu Nawas.






"Mana? Aku tak melihat apa-apa, "ujar raja.
"Ampun baginda, jika baginda ingin melihat bukti maka botol ini harus dibuka terlebih dahulu," jawab Abu Nawas.

Kemudian botol dibuka, tercium aroma tak sedap serta menyengat sekali baunya.
""Busik sekali, bau ini, "tanya raja.

Ternyata Abu Nawas dengan sengaja memasukkan aroma menyengat ke dalam botol tersebut. Tentu saja sang raja tak bisa berkutik lagi kalau Abu Nawas berhasil menangkap dan memenjarakan angin.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia